Lari Marathon Untuk 4 Pengidap HIV

Jual Smart Detox Di Palembang Masih belum usai juga stigma yang ditujukan pada Orang dengan HIV-AIDS atau ODHA. Padahal mereka sudah sangat disibukkan dengan perjuangan menyehatkan tubuh mereka, tetap banyak hujatan atau penghakiman dari orang-orang di sekitarnya.

Electric Jakarta Marathon 2018 akan dilaksanakan pada 28 Oktober 2018 nanti, dan akan menjadi medan laga bagi 4 ODHA untuk berlari demi sebuah misi. Mungkin bagi beberapa orang mengikuti marathon adalah sebuah hal yang biasa, namun mereka tidak karena ada tugas berat yang mereka emban.

Adalah Tesa, Eva, Davi dan Fikran. Dengan misi yang berbeda-beda, namun tujuan mereka tetaplah satu, yakni melawan stigma. Serta mereka juga memperjuangkan hak-hak sesamanya, baik dari yang masih bayi, kanak-kanak, hingga usia lanjut.

Sekaligus membuktikan, bahwa walau "sakit" dan dicap "akan segera mati", mereka mampu mempromosikan gaya hidup sehat lewat berolahraga. Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye #SayaBerani #SayaSehat yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan RI dan UNAIDS Indonesia bersama sejumlah kelompok dan organisasi.

Berikut beberapa kisah mereka menjelang lomba marathon tersebut: (frp/up)

Pernah terdiagnosis AIDS stadium 3 pada 2007 memang mengubah hidup Tri Eklas Tesa Sampurno atau Tesa. Namun, tak menyurutkan niatnya menjadi pelari full marathon sejauh 42 km di Electric Jakarta Marathon 2018 nanti.

Olahraga bukanlah hal yang baru baginya. Tesa pernah berpartisipasi dalam kejuaraan Homeless World Cup 2011 di Prancis dan pernah sekali berpartisipasi dalam marathon sejauh 21 km. Boxing menjadi olahraga favorit lainnya yang ia lakukan.

"Basically saya suka semua olahraga yang berbentuk permainan. Sebisa mungkin saya melakukan olahraga, apapun bentuknya," terang pria berusia 34 tahun ini kepada detikHealth.

NAPZA suntik yang ia gunakan sejak duduk di kelas 3 SMP lah yang menularkan penyakit tersebut. Akibatnya, ia harus rela keluar kuliah yang telah ia jalani selama 4 semester demi menjalani pengobatan dan perawatan.

"Banyak orang yang bilang kalau ODHA itu tinggal kulit, tulang, sama kentut. Kehidupan saya nggak ada yang berubah, cuma harus minum obat aja. Orang HIV itu tidak sesedih yang orang-orang bayangkan," tuturnya.

Misi amal yang dibawa Tesa dalam marathon nanti adalah penggalangan dana untuk organisasi Rumah Cemara dalam rangka partisipasi tim sepakbola Indonesia dalam Homeless World Cup 2018 di Meksiko. Penggalangan dana ini dilaksanakan lewat link kitabisa.com/sayaberani2018.

"Umur kita nggak ada yang tahu, saya cuma pengen jadi lebih baik ke depannya. Ya inilah pembuktian saya, ditanya ya harus yakin lah. Yang membunuh seseorang itu kan ketakutan itu sendiri," tandasnya.

Menjadi ibu tunggal dengan tiga orang putri sekaligus menjadi ODHA membuat Eva Dewi bukanlah ibu biasa. Eva, sapaannya, bahkan menjadi relawan untuk melatih sepakbola dan tinju untuk perempuan di organisasi Rumah Cemara, Bandung.

Eva mengaku, ia tidak terlalu menyukai olahraga lari. Namun ia menyanggupi berlari 10 km di Electric Jakarta Marathon 2018 nanti demi membantu program Jagoan Bintang untuk anak-anak dengan HIV.

Seperti Tesa, olahraga juga merupakan kegiatan favorit Eva. Selain itu ia ingin menunjukkan bahwa ODHA berhak sehat dan dapat melakukan hal yang sama dengan orang lainnya.

"Ini pertama kalinya (ikut marathon), tapi saya memang suka olahraga. Kalau saya sih buat kesehatan pribadi ya awalnya. Sering digituin (dikomentari negatif), tapi mau gimana lagi namanya juga olahraga saya pengen sehat. Alhamdulillah sekarang lebih sehat,"

Eva terdiagnosis HIV pada tahun 2014. Walau ia dan anak bungsunyasempat dijauhi oleh keluarga serta orang-orang sekitar, namun kini mulai berangsur-angsur membaik karena adanya pemahaman yang lebih baik.

Kecintaannya pada dunia sepakbola menghantarkannya menjadi salah satu pemain yang akan bertanding di kejuaraan Homeless World Cup 2018 di Meksiko nanti

Sejak terdiagnosis HIV di usia 19 tahun, Sepi Maulana Ardiansyah alias Davi sangat aktif dalam program penanggulangan HIV di Indonesia, khususnya pada anak-anak. Oleh karena itu, pria berusia 26 tahun ini menyanggupi untuk mengikuti half marathon.

"Coach pernah bilang sama saya kalau fisik itu 10 persen, 90 persennya mental. Kita harus yakin bahwa kita bisa, saya bisa. Itu yang selalu saya pegang," katanya.

Misi amal yang ia bawa adalah membantu dan mendukung masa depan anak-anak dengan HIV di organisasi Lentera Anak Pelangi. 94 anak dalam organisasi tersebut 50 persennya adalah yatim piatu, di mana mereka ditularkan dari orang tuanya lalu ditinggalkan begitu saja.

Bulu tangkis menjadi olahraga favoritnya. Mahasiswa Fakultas Sosiologi Universitas Terbuka ini sering mengisi waktu luangnya dengan bermain bulu tangkis sebanyak tiga kali seminggu.

Ketimbang berlari, Ade Fikran lebih menyenangi berenang seminggu sekali. Namun, kini ia menyanggupi mengikuti half marathon demi misi besar yang ia emban.

"Awal-awalnya tuh mikir, bisa nggak ya lari half marathon, itu sekitar 21 km ya. Sempet ragu gitu. Tiap minggu juga CFD-an tapi nggak lari yang sampe 21km-an gitu," terang Fikran, sapaan akrabnya.

Ia menggalang dana untuk komunitas Merah Muda, di mana terdapat banyak anak muda yang baru terdiagnosis HIV namun masih kekurangan informasi serta dana untuk pemeriksaan dan perawatan.

Sebagai persiapan, Fikran dan kawan-kawan telah melakukan latihan intens bersama pelatih selama sebulan. Fikran, kini berusia 26 tahun, telah berjuang dalam HIV sejak 2014 sangat berharap bahwa lewat aksi run for charity ini juga dapat memberi edukasi bagi masyarakat yang masih awam baik tentang HIV maupun AIDS, termasuk juga para ODHA. (frp/up)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *