Ironis BPJS Kesehatan Ditalangi Cukai Rokok

Obat kanker payudara stadium awal Adanya dana talangan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan dari cukai rokok sebesar Rp 1,48 triliun dinilai sebagai suatu ironi. Sebab, di Indonesia rokok masih menjadi ‘penyumbang’ masalah kesehatan seperti penyakit jantung, paru-paru, dan kanker.

Dokter jantung dari Eka Hospital, dr Daniel Tanubudi SpJP-(K), setuju bahwa rokok memberikan dampak yang tidak baik untuk kesehatan. Namun ia enggan berkomentar banyak soal keputusan pemerintah untuk menutup defisit BPJS Kesehatan dengan dana dari cukai rokok.

"Tentu saya tidak bisa komen banyak soal itu ya, karena pemerintah mungkin memiliki pertimbangan sendiri untuk pengambilan dana dari cukai rokok," ujarnya.

Dikatakan oleh dr Daniel, kebiasaan merokok harusnya disetop karena selain tidak bermanfaat, merokok juga akan menimbulkan berbagai macam penyakit yang akan meningkatkan biaya kesehatan itu sendiri. Adanya faktor-faktor lain mungkin menjadi pertimbangan tersendiri bagi pemerintah dalam keputusannya.

"Gini ya, kalau dihitung-hitung mungkin bea atau pajak dari rokok tinggi. Tapi akibat yang ditimbulkan secara finansial juga sama tingginya apalagi kalau sudah jatuh sakit," tambahnya.

Lebih lanjut, dr Daniel menyarankan agar pemerintah lebih mengampayekan gerakan hidup sehat daripada menerima biaya dari cukai rokok.

"Dengan hidup sehat pasti biaya untuk kesehatan akan turun juga. Beban pemerintah untuk mengurangi biaya pengobatan akan menurun khususnya dari rokok," tutupnya.

Lari Marathon Untuk 4 Pengidap HIV

Jual Smart Detox Di Palembang Masih belum usai juga stigma yang ditujukan pada Orang dengan HIV-AIDS atau ODHA. Padahal mereka sudah sangat disibukkan dengan perjuangan menyehatkan tubuh mereka, tetap banyak hujatan atau penghakiman dari orang-orang di sekitarnya.

Electric Jakarta Marathon 2018 akan dilaksanakan pada 28 Oktober 2018 nanti, dan akan menjadi medan laga bagi 4 ODHA untuk berlari demi sebuah misi. Mungkin bagi beberapa orang mengikuti marathon adalah sebuah hal yang biasa, namun mereka tidak karena ada tugas berat yang mereka emban.

Adalah Tesa, Eva, Davi dan Fikran. Dengan misi yang berbeda-beda, namun tujuan mereka tetaplah satu, yakni melawan stigma. Serta mereka juga memperjuangkan hak-hak sesamanya, baik dari yang masih bayi, kanak-kanak, hingga usia lanjut.

Sekaligus membuktikan, bahwa walau "sakit" dan dicap "akan segera mati", mereka mampu mempromosikan gaya hidup sehat lewat berolahraga. Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye #SayaBerani #SayaSehat yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan RI dan UNAIDS Indonesia bersama sejumlah kelompok dan organisasi.

Berikut beberapa kisah mereka menjelang lomba marathon tersebut: (frp/up)

Pernah terdiagnosis AIDS stadium 3 pada 2007 memang mengubah hidup Tri Eklas Tesa Sampurno atau Tesa. Namun, tak menyurutkan niatnya menjadi pelari full marathon sejauh 42 km di Electric Jakarta Marathon 2018 nanti.

Olahraga bukanlah hal yang baru baginya. Tesa pernah berpartisipasi dalam kejuaraan Homeless World Cup 2011 di Prancis dan pernah sekali berpartisipasi dalam marathon sejauh 21 km. Boxing menjadi olahraga favorit lainnya yang ia lakukan.

"Basically saya suka semua olahraga yang berbentuk permainan. Sebisa mungkin saya melakukan olahraga, apapun bentuknya," terang pria berusia 34 tahun ini kepada detikHealth.

NAPZA suntik yang ia gunakan sejak duduk di kelas 3 SMP lah yang menularkan penyakit tersebut. Akibatnya, ia harus rela keluar kuliah yang telah ia jalani selama 4 semester demi menjalani pengobatan dan perawatan.

"Banyak orang yang bilang kalau ODHA itu tinggal kulit, tulang, sama kentut. Kehidupan saya nggak ada yang berubah, cuma harus minum obat aja. Orang HIV itu tidak sesedih yang orang-orang bayangkan," tuturnya.

Misi amal yang dibawa Tesa dalam marathon nanti adalah penggalangan dana untuk organisasi Rumah Cemara dalam rangka partisipasi tim sepakbola Indonesia dalam Homeless World Cup 2018 di Meksiko. Penggalangan dana ini dilaksanakan lewat link kitabisa.com/sayaberani2018.

"Umur kita nggak ada yang tahu, saya cuma pengen jadi lebih baik ke depannya. Ya inilah pembuktian saya, ditanya ya harus yakin lah. Yang membunuh seseorang itu kan ketakutan itu sendiri," tandasnya.

Menjadi ibu tunggal dengan tiga orang putri sekaligus menjadi ODHA membuat Eva Dewi bukanlah ibu biasa. Eva, sapaannya, bahkan menjadi relawan untuk melatih sepakbola dan tinju untuk perempuan di organisasi Rumah Cemara, Bandung.

Eva mengaku, ia tidak terlalu menyukai olahraga lari. Namun ia menyanggupi berlari 10 km di Electric Jakarta Marathon 2018 nanti demi membantu program Jagoan Bintang untuk anak-anak dengan HIV.

Seperti Tesa, olahraga juga merupakan kegiatan favorit Eva. Selain itu ia ingin menunjukkan bahwa ODHA berhak sehat dan dapat melakukan hal yang sama dengan orang lainnya.

"Ini pertama kalinya (ikut marathon), tapi saya memang suka olahraga. Kalau saya sih buat kesehatan pribadi ya awalnya. Sering digituin (dikomentari negatif), tapi mau gimana lagi namanya juga olahraga saya pengen sehat. Alhamdulillah sekarang lebih sehat,"

Eva terdiagnosis HIV pada tahun 2014. Walau ia dan anak bungsunyasempat dijauhi oleh keluarga serta orang-orang sekitar, namun kini mulai berangsur-angsur membaik karena adanya pemahaman yang lebih baik.

Kecintaannya pada dunia sepakbola menghantarkannya menjadi salah satu pemain yang akan bertanding di kejuaraan Homeless World Cup 2018 di Meksiko nanti

Sejak terdiagnosis HIV di usia 19 tahun, Sepi Maulana Ardiansyah alias Davi sangat aktif dalam program penanggulangan HIV di Indonesia, khususnya pada anak-anak. Oleh karena itu, pria berusia 26 tahun ini menyanggupi untuk mengikuti half marathon.

"Coach pernah bilang sama saya kalau fisik itu 10 persen, 90 persennya mental. Kita harus yakin bahwa kita bisa, saya bisa. Itu yang selalu saya pegang," katanya.

Misi amal yang ia bawa adalah membantu dan mendukung masa depan anak-anak dengan HIV di organisasi Lentera Anak Pelangi. 94 anak dalam organisasi tersebut 50 persennya adalah yatim piatu, di mana mereka ditularkan dari orang tuanya lalu ditinggalkan begitu saja.

Bulu tangkis menjadi olahraga favoritnya. Mahasiswa Fakultas Sosiologi Universitas Terbuka ini sering mengisi waktu luangnya dengan bermain bulu tangkis sebanyak tiga kali seminggu.

Ketimbang berlari, Ade Fikran lebih menyenangi berenang seminggu sekali. Namun, kini ia menyanggupi mengikuti half marathon demi misi besar yang ia emban.

"Awal-awalnya tuh mikir, bisa nggak ya lari half marathon, itu sekitar 21 km ya. Sempet ragu gitu. Tiap minggu juga CFD-an tapi nggak lari yang sampe 21km-an gitu," terang Fikran, sapaan akrabnya.

Ia menggalang dana untuk komunitas Merah Muda, di mana terdapat banyak anak muda yang baru terdiagnosis HIV namun masih kekurangan informasi serta dana untuk pemeriksaan dan perawatan.

Sebagai persiapan, Fikran dan kawan-kawan telah melakukan latihan intens bersama pelatih selama sebulan. Fikran, kini berusia 26 tahun, telah berjuang dalam HIV sejak 2014 sangat berharap bahwa lewat aksi run for charity ini juga dapat memberi edukasi bagi masyarakat yang masih awam baik tentang HIV maupun AIDS, termasuk juga para ODHA. (frp/up)

Makan malam, Direkayasa Hanya untuk Anda Perusahaan ingin menjual diet yang dioptimalkan untuk Anda. Yang mereka butuhkan hanyalah DNA Anda

Obat pelangsing alami Bayangkan aplikasi yang menggabungkan pengiriman makan-kit Blue Apron, kerusakan DNA 23andMe, dan ambisi pengganti makanan Soylent. Oh, dan akan ada elemen foto Instagram-y yang terlibat, juga. Dengan kekuatan seperti itu, restoran yang menggunakan aplikasi bisa, secara teori, memata-matai hidangan yang dia suka, dan mengambil foto itu. Layanan ini kemudian akan menganalisis bahan-bahannya, dan mengumpulkan perangkat makan yang dikirimkan secara otomatis. Layanan ini juga akan tahu bahwa restoran ini ingin mengurangi asupan natrium, dan memiliki kekurangan zat besi dalam dietnya, sehingga dapat menyesuaikan bahan-bahan sedikit untuk mengimbangi.

Ini adalah pendekatan untuk makan dan diet yang belum ada di sini, tetapi ide semata-mata menimbulkan sejumlah pertanyaan: Apakah orang ingin diet yang lebih baik jika mereka datang dengan biaya kelezatan? Bukankah manusia sebenarnya tahu apa yang harus dimakan? Bisakah perusahaan dipercaya dengan informasi pribadi semacam itu? Apakah produk ini hanya menjadi minyak ular mutakhir? Hal-hal ini, dan banyak lagi kekhawatiran lainnya, sedang dikenali lebih lanjut dengan cepat ketika sejumlah pesaing berlomba untuk menjadi pemimpin dalam nutrisi teknologi tinggi.

Nestlé sudah mengemudikan layanan kesehatan di Jepang yang terlihat sangat mirip dengan versi prototipe dari skenario fantasi ini. Menurut sebuah laporan di Bloomberg, "Program Duta Kesehatan" baru perusahaan memungkinkan 100.000 pengguna untuk mengirim gambar makanan mereka ke layanan dan menerima rekomendasi perubahan gaya hidup serta "suplemen yang diformulasikan secara khusus." Ada juga "kapsul yang membuat teh kaya nutrisi, smoothie dan produk lain seperti camilan yang diperkaya vitamin. ”Kit rumah, sementara itu, memungkinkan pengguna untuk“ memberikan sampel untuk tes darah dan DNA, ”sehingga Nestlé dapat mengetahui lebih banyak tentang kesehatan setiap orang. Biaya layanan hingga $ 600 per tahun. (Nestlé juga berinvestasi secara strategis di nutriceuticals, makanan yang dipasarkan sebagai alat bantu kesehatan. Tahun ini, perusahaan mengakuisisi pembuat suplemen Kanada Atrium Innovations senilai $ 2,3 miliar, dan kit yang Nestlé kirimkan pelanggan Wellness Ambassador mengambil bentuk minuman “dibagikan dalam kapsul menggunakan produk yang mirip dengan Nespresso. ”)

Tentu saja, perusahaan yang bertanggung jawab untuk Hot Pockets tidak sendirian dalam mengejar masa depan yang menggabungkan fantasi fiksi makanan-dalam-pil dari fiksi ilmiah dengan masalah privasi pribadi Facebook. Kebiasaan, diluncurkan pada 2016 dengan dana $ 32 juta dari Campbell, menawarkan rencana diet pribadi berdasarkan "lebih dari 70 biomarker." Kit di rumah perusahaan "menguji metabolisme Anda, DNA dan metrik tubuh," dan program nutrisi "inti" nya dimulai. seharga $ 199. Nutrigenomix Kanada, di sisi lain, mengirimkan setiap grafik nutrisi pribadi kliennya. Sebuah laporan sampel untuk pengguna imajiner bernama "Caroline" bahwa start-up yang dibagikan dengan Grub mengidentifikasi 17 faktor risiko spesifik, mulai dari kesulitan menyerap vitamin tertentu hingga kelainan genetik yang meningkatkan risiko serangan jantung jika ia minum terlalu banyak kafein.

Dasar pemikiran ini adalah bidang Nutrigenomik yang masih muncul, yang meneliti cara-cara di mana gen manusia berinteraksi dengan makanan manusia. Pendiri Nutrigenomix dan profesor nutrisi Universitas Toronto Ahmed El-Sohemy mengatakan manusia kacau ketika mereka mulai fokus pada satu pedoman diet yang cocok untuk semua. Dia mengklaim bahwa memahami perbedaan genetika membantu menjelaskan mengapa aksioma seperti "diet rendah sodium adalah baik" berakhir dengan menyakiti individu-individu yang terpisah, satu-dalam-satu-juta orang yang tekanan darahnya benar-benar naik. El-Sohemy mengatakan perusahaan seperti dia dapat mencegah hal itu terjadi di tempat pertama.

Namun, beberapa ahli tidak yakin bahwa pendekatan ini akan membuat banyak perbedaan pada diet individu. “Gen kami berperan dalam hampir semua yang kami lakukan,” jelas Cecile Janssens, seorang profesor epidemiologi di Emory University Rollins School of Public Health. "Tetapi peran setiap gen sangat kecil sehingga Anda tidak dapat secara otomatis menggunakannya untuk memprediksi berapa banyak vitamin yang harus diambil seseorang." Membawa alel tertentu, katanya, tidak berarti Anda memerlukan sesuatu seperti 500 mikrogram tambahan. brokoli sehari, dan bahwa jenis penentuan layanan ini menjanjikan membutuhkan “mengetahui semua yang dilakukan orang itu.”

Kritik lain adalah bahwa bidang Nutrigenomik sendiri terlalu baru untuk berfungsi sebagai panduan efektif untuk berdiet. Dua penelitian terbaru – analisis penelitian yang digunakan oleh tes nutrigenetik, dan uji klinis yang meneliti diet berbasis genotipe – menemukan tes “kekurangan bukti ilmiah”, dan bahwa “tidak ada perbedaan signifikan” dalam penurunan berat badan partisipan ketika mereka mengikuti pedoman ini versus ketika mereka tidak.

Terlepas dari itu, industri Nutrigenomik dilaporkan membelanjakan $ 4,3 miliar pada tahun 2016, dan diperkirakan akan mencapai $ 10 miliar pada 2023. Sementara itu, Nestlé, memperkirakan bahwa jumlah pelanggan untuk program Wellness Ambassador akan lebih dari dua kali lipat, menjadi 25